Kami Memang Membuat Kesalahan, Namun Mengungkitnya Kembali Begitu Kami Sudah Meminta Maaf dan Mengganti Rugi Membuat Kami Jengah Padamu

Kami Memang Membuat Kesalahan, Namun Mengungkitnya Kembali Begitu Kami Sudah Meminta Maaf dan Mengganti Rugi Membuat Kami Jengah Padamu
Credit: Stocksnap

Cerita ini berlatar di bulan puasa tahun ini, 2016, seperti pada umumnya orang yang berpuasa, kamu tentunya bangun di sepertiga malam untuk menyantap kudapan sahur supaya kamu kuat seharian beraktifitas di bulan puasa ini.

Ceritanya, saya dan adik kelas saya (sebut saja namanya Huraira, namun panggilan akrabnya itu "Oi") ingin membeli makanan untuk disantap kala sahur. Selayaknya mahasiswa rantau pada umumnya, kami ingin mencari makanan yang terjangkau namun mengenyangkan, sayang, sudah berkeliling kesana kemari, tempat makannya banyak yang tutup, kecuali rumah makan padang.

Apa boleh buat, kami enggak punya pilihan lain selain beli makanan di tempat itu, well, ketika saya dan adik kelas saya ini masuk ke rumah makan padang itu, adik kelas saya ini berulah, kalkulator yang digunakan oleh pemilik toko itu tidak sengaja tersentuh dan terjatuh.

"Gubrak!!!" Suara kalkulator jatuh (Anggep aja suaranya begitu).

Pemilik toko: "Aduh, kalkulator saya rusak!"

Oi: "Maaf ya pak, saya enggak sengaja pak, saya enggak tahu kalo disamping saya ada kalkulator."

Pemilik Toko: "Aduh, mana kalkulatornya mahal lagi, kamu harus ganti pokoknya."

Saya dan adik kelas saya saling menoleh. Maksudnya kami sama-sama saling setuju kalau kalkulator itu harus diganti tapi kami enggak suka dengan pernyataan pemilik toko kalau kalkulator itu mahal, faktanya kalkulator itu sudah berumur dan usang, bukan maksudnya menjelekkan, tapi memang begitu adanya, kalkulator itu sudah diperban dengan selotip di semua sisinya, pemilik toko meminta kami menggantinya dengan uang lima puluh ribu, oh well, itu enggak sebanding dengan harga aslinya, jadi kami berpikir untuk mengganti rugi dengan harga sesuai tipe kalkulatornya.

Esoknya, ketika waktu menjelang berbuka puasa, kami kembali membeli makanan di rumah makan padang itu lagi, kamu tahu apa yang terjadi seketika kami sampai disana? Pemilik toko itu bukannya memulai percakapan dengan menanyai keperluan kami membeli makanan apa, dia malah membahas soal kejadian kalkulator kemarin. Bukan maksud kami tidak mau mendengarkannya, namun alangkah baiknya tidak membahas dan mengungkit persoalan itu lagi, kami datang baik-baik untuk membeli makanan ditempatmu, bukan mau mendengarkan ujaranmu tentang kalkulator, seketika itupun kami merasa jengah dan memutuskan tidak mau membeli makanan disana lagi. 

"Kami Memang Membuat Kesalahan, Namun Mengungkitnya Kembali Begitu Kami Sudah Meminta Maaf dan Mengganti Rugi Membuat Kami Jengah Padamu"

Bagaimana cerita ini menurutmu?

2 comments:

  1. Kalau di warung kayak gini mah bisa ditinggalin aja warungnya dan nyari warung yang lain. Tapi kalau kejadiannya sama Ibu, masa harus nyari Ibu yang lain?? Kan sering juga tuh Ibu/Emak/Mama (atau apapun kamu menyebutnya) ngungkit2 masalah yg udah lama kita lakuin. Padahal kita udah minta maaf juga. Apalagi kalau Ibu lagi kesel. Kesalahan se abad yang lalu pun bisa diungkit lagi... Hahahaa.... *kok jadi ngelantur siihh* *peace*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fitrotul Aini:

      Iya, kalo warung gitu kita bisa pindah ke tempat lain.

      Ini anak curhat juga nih ceritanya. Haha :D
      Tapi kalo cerita dari lo fit kayanya gak mungkin pindah deh, secara, itu kan ibu lo sendiri fit, mau gimana juga tetep harus bertahan, iya kan? Hehe

      Delete

Speak Your Mind

Berkomentarlah dengan baik, usahakan membaca artikelnya terlebih dahulu hingga selesai supaya komentarmu bisa sesuai dengan pembahasan artikel di blog ini.

Jangan menyertakan link aktif di kotak komentar. Komentar berisi link aktif akan segera dihapus!

Terima Kasih :)

Powered by Blogger.